Jalan Kenangan Medokan - Wonorejo Surabaya


            (kurang lebih kayak gini jalannya yang ada di google)
Assalamualaikum guis :p Welcome to my blog :D
Kali ini gue bakal cerita tentang Jalan Kenangan Medokan Ayu – Wonorejo (yaiyalah udah ada di judul). Well, pasti kalian bertanya-tanya “ada apa dengan jalan ini?” dan pasti kalian (mungkin) akan berpikir “Ah, Palingan juga cerita pertama kali pas ketemu gebetan.” Tee toot… salah semua! Kali ini gue bukan mau nyeritain kisah cinta gue lagi (yang emang biasanya gitu) tapi gue mau nyeritain tentang kejadian tadi pagi saat gue jalan-jalan menengok adeknya nenek gue yang sakit, tepatnya di daerah Rungkut (gue lupa nama jalannya) dan daerah situ adalah jalan menuju ke sekolah gue waktu MTs. Udah gitu doang? No no no, itu baru pembukaan gaes alias prolog. Cerita yang sesungguhnya baru akan dimulai (banyak cincong dah). Cusss langsung aja kuy…
So,pagi ini gue diajak sama emak tercinta buat ngurusin surat rujukan adeknya nenek gue yang sakit itu di Puskesmas setempat. Nah, pertama kita pergi fotokopi berkas-berkas yang perlu di fotokopi (yaiyalah). Akhirnya kita jalan nyari tempat fotokopian di daerah situ dan melewati jalan-jalan saat waktu gue MTs. Gue jadi nostalgia ke jaman-jaman MTs yang penuh suka duka (ceilah). Di jalan ini, gue pernah panas-panas ngonthel pulang sekolah sambil ketawa ketiwi bareng temen seangkatan gue meskipun kita tahu bahwa tenaga kita udah terkuras banyak di sekolah. Gue inget penyebab ketidak-sinkron-an warna kulit gue gara-gara ngonthel PP dua jam di siang bolong. Gue inget pernah suatu hari, gue sama sohib gue keujanan saat baru mau berangkat sekolah. Bayangin, baru berangkat sekolah aja udah keujanan sampe basah kuyup. Tapi disitu kita masih bisa ketawa ketiwi dan membicarakan banyak hal yang gak penting. Karena kita tahu bahwa kita gak akan punya cukup waktu untuk melakukan itu di kemudian hari, kita hanya punya satu waktu yang tepat untuk melakukan itu and now it’s time to act like that.
Sedikit yang berubah dari jalan ini, atau mungkin banyak yak? Pertama yang gue sadari bahwa gedung yang pembangunannya dimulai saat gue kelas dua MTs, akhirnya udah selesai juga. Bayangin, setiap hari gue sama sohib gue menbak-nebak bangunan di daerah perumahan penjaringan sari itu, bakal jadi apa nantinya? Sohib gue menebak bakal jadi pusat perbelanjaan dan gue menebak mungkin bakal jadi penginapan atau semacamnya. Dan sekarang terbukti bahwa tebakan kita gaada yang bener. Bangunan itu ternyata jadi semacam kantor pemasaran tanha kavling di perumahan setempat. Sebenernya gue juga bingung, kenapa kantor pemasaran harus gede-gede banget? Gedenya itu gak wajar, kayak pusat perbelanjaan gitu. Terus tempat gue bimbel dulu (ya, meskipun Cuma satu bulan doang) PG alias Primagama. Dia juga pindah tempat di ruko lain, tapi masih satu lokasi alias berdekatan. Dan terakhir taman yang ada di tanah luas pemkot Surabaya. Kelas satu MTs dulu, belum ada taman disitu, jadi cuma tanah luas yang di tumbuhi ilalang gitu. Baru kelas dua mulai di bangun taman di situ tapi baru tanamannya doang disitu. Lah pas gue lewat sana tadi, tuh taman udah ada mainannya aja. Oh, gue lupa. Mas “D’masiv” yang dulu sangat berjasa, yang biasanya membetulkan sepeda onthel kami, juga udah agak gendutan. Padahal dulu kurus banget dan keliatan ganteng banget (heh). Sekarang agak kumus-kumus dan gantengnya mulai berkurang, mungkin karena udah nikah (sotoi).
Hingga kini, gue gak menyesali apa yang dulu pernah gue lakuin. Karena itu, gue jadi punya suatu kenangan untuk dikenang. Kenangan yang simple namun jujur, gak berpura-pura, apa adanya. Dulu, gue bukan anak hits yang selalu kongkow di café mahal dan poto-poto selfie sambil senyum-senyum manjah. Tampil hits dan trendi demi ngikutin gaya kekinian padahal it’s the fake self dari diri kita. Banyak orang yang bilang gue aneh, gokil, gak banget, ndeso, de el el, but it’s me. Karena manusia punya karakter dan keuinikannya masing-masing, tergantung bagaimana kita ingin dilihat oleh masyarakat. It’s real, girl!
Jadi ngelantur kemana-mana kan -_-
So, dengan mengingat kenangan sekitar dua tahun yang lalu itu, gue jadi sadar bahwa apa yang gue lakuin itu gak sia-sia. Seenggaknya gue jadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain dan gue bahagia. Gue juga berterima kasih kepada peluh, canda, jatuh, bangun, sakit, dan segala macam yang pernah gue rasain untuk pertama kalinya dalam hidup gue. Karena semua itu yang membuat gue jadi seperti ini dan lebih menghargai hidup. Setidaknya seperempat (atau mungkin lebih) dari asam, manis, pahitnya hidup udah gue rasain dan gue jadi bisa belajar dari itu semua. Gue bukan sok-sokan jadi orang dewasa yang bicara tentang hidup, NO! gue masih remaja sama kayak kalian. Gue masih mau main-main, masih pengen ngerasain kebebasan, masih punya banyak impian untuk diwujudkan, masih pengen melakukan banyak hal sebelum nikah.
Terima kasih buat teman-teman seangkatan gue di pondok, sohib-sohib gue, guru-guru, abah wa ummi, dan semua orang yang ikut andil dalam pembentukan kenangan masa MTs gue (berasa kayak punya proyek aja) yang baru gue rasakan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup. Entah kenapa, gue terharu kalo inget masa-masa dulu.
Di jalan ini, gue mengayuh sepeda onthel dengan berbagai perasaan dan pikiran yang acak adut. Dan di jalan ini juga, semua kenangan gue tersimpan. Banyak hal yang gue pikirkan dan gue pelajari selama melewati jalan ini. Itulah yang membuat gue jadi kayak sekarang ini.
Oke, udahan dulu cerita jalan kenangan kali ini. Gue mau pamit undur diri karena jari gue udah mulai keriting nih.
Wassalamualaikum gaes J

Surabaya, 11 Juli 2017

Komentar

Postingan Populer